Rinella Putri
Assistant Executive Editor
Leadership Figure Series: Sergey Brin & Larry Page
Selasa, 20 April 2010 18:00 WIB
(managementfile – Leadership) – Perusahaan teknologi raksasa Google merupakan hasil dari kerja keras duo Sergey Brin dan Larry Page sejak mereka masih muda. Bagaimana kisah keduanya hingga Google bisa menjadi besar seperti sekarang ini? Simak dalam Leadership Figure Series kali ini.

Sergey Brin lahir di Moskow, Rusia, pada tahun 1973. Keluarganya kemudian pindah ke Amerika Serikat pada tahun 1979, ketika Brin masih berusia 5 tahun. Ayahnya adalah seorang profesor matematika di Universitas Maryland, sementara ibunya juga ahli matematika dan insinyur yang bekerja sebagai spesialis NASA. Melihat dari akar ayah dan ibunya, tidak heran jika Sergey Brin juga menjadi seorang jenius.

Brin kecil sudah tertarik dengan komputer sejak ayahnya memberikan komputer pertamanya, yakni Commodore 64. Sejak saat itu, antusiasme Brin terhadap dunia matematika dan komputer terus berkembang. Brin memperoleh gelar sarjana Computer Science dan Mathematics dari Universitas Maryland, kemudian mendapat gelar Master Computer Science dari Stanford University pada tahun 1995. Brin sedang dalam perjuangannya meraih Ph.D ketika ia bertemu dengan Larry Page, yang kemudian menjadi partnernya dalam membangun Google.

Lawrence Edward Page, atau Larry Page, lahir di Michigan. Ayahnya seorang profesor komputer di Universitas Michigan, sementara ibunya juga seorang guru computer-programming. Jadi, tidak heran jika Larry sudah familiar dengan komputer sejak kecil, bahkan jadi anak pertama di SD-nya yang mengerjakan PR dengan program word-processing. Page memperoleh gelar sarjana Computer Engineering dari Universitas Michigan serta Master dari Stanford University.

Sama-sama belajar di Universitas Stanford untuk mengejar gelar Ph.D, suatu hari Brin dan Page mengerjakan proyek bersama-sama, yakni software BackRub, search engine yang mengecek balik link untuk menentukan pentingnya satu situs dibandingkan situs lainnya. BackRub ini merupakan cikal bakal Google. Keduanya kemudian drop out dari universitas untuk mengerjakan ide mereka dengan serius.

Software BackRub yang mereka kerjakan sebelumnya, kemudian mengalami re-launch dengan nama Google. Nama ini diadaptasi dari istilah matematika, googol, yang artinya 1 diikuti oleh seratus nol. Awalnya mereka menggunakan situs Universitas Stanford sebagai hosting, namun kemudian pada 13 September 1997, akhirnya www.google.com terdaftar secara resmi. Setahun kemudian, meihat potensi besar dari search engine mereka, Brin dan Page membangun perusahaan Google. Kini, Google menjadi salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia.

Bagaimana Sergey Brin dan Larry Page mewujudkan hal ini?

Don’t Be Evil. Junjung Tinggi Etika
Salah satu filosofi yang dipegang oleh Google adalah “you can make money without evil”, yang bisa disingkat sebagai “don’t be evil”. Ini adalah prinsip Google, yang tidak mau mengeksploitasi user, seperti yang banyak dilakukan oleh para pesaingnya.

Google punya kebijakan bahwa mereka tidak mau menerima iklan untuk situs yang anti terhadap seseorang atau sesuatu (kecuali memang sesuatu yang buruk tentunya. Prinsip Google adalah tetap mempertahankan standar moral yang tinggi, meskipun harus mengorbankan keuntungan dalam jangka pendek.

Metode search engine yang mereka lakukan, yakni sistem PageRank, juga benar-benar dilakukan secara demokratis, sesuai dengan user. Google menentukan PageRank berdasarkan pemakaian user, dan user sendiri yang menentukan apakah suatu website relevan atau tidak bagi mereka. Google juga cukup fair terhadap user, untuk memberikan klasifikasi iklan secara jelas. Tiap iklan yang tampil di Google, selalu ada tulisannya “Sponsored Link”, sehingga tidak misleading user.

Filosofi Google bukan hanya sekedar filosofi belaka, ini terlihat dari Google yang memberikan sejumlah iklan gratis untuk sejumlah organisasi nirlaba, demi penyampaian pesan yang baik ke seluruh dunia. Kemudian, baru-baru ini Google memutuskan untuk hengkang dari Cina, karena tidak setuju dengan pemerintah yang menyensor hasil search Google. Google melihat tindakan tersebut bertentangan dengan hak asasi manusia yakni free speech.

User Experience Nomor Satu, Inovasi Tiada Henti
Bagi Google, user experience selalu menjadi prioritas utama. Sejak awal menciptakan search engine Google, Brin dan Page berupaya supaya user dapat memperoleh informasi secara efisien. Selain waktu pencarian yang cepat, hasil pencarian juga harus relevan dan akurat. Dalam hal search engine, masih belum ada yang bisa menandingi kedigdayaan Google. Harus kita akui bahwa memang hasil search Google adalah yang terbaik dibandingkan yang lain, dan hal tersebutlah yang menjadikan mereka besar seperti sekarang ini.

Keinginan untuk memberikan user experience yang terbaik jugalah yang mendorong Google untuk berinovasi hingga menghasilkan produk-produk unggulannya yang saat ini digunakan secara luas seperti Gmail, Google Docs, hingga aplikasi kolaborasi seperti Google Wave dan social networking Google Buzz.

Karyawan = Prioritas Nomor Satu
Seperti yang sudah dijelaskan diatas, keinginan Google untuk memberikan user experience menjadikan Google terus melakukan inovasi tiada henti. Inovasi di Google berlangsung tiada batas. Brin dan Page memberikan kebebasan kepada seluruh karyawannya untuk berinovasi. Prinsip people-oriented ini menjadi salah satu keunggulan Google.

Google punya SDM dengan kualitas terbaik di seluruh dunia. Test masuk Google sangat berbeda dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan lain. Hanya orang-orang terpilih yang bisa kerja di Google. Ditambah lagi, Google membiarkan karyawannya untuk bebas berinovasi. Jika orang-orang pandai dan kreatif dibolehkan untuk bebas berekspresi, tentunya hasilnya adalah produk yang hebat.

Untuk mendorong produktivitas karyawan, maka Brin dan Page membangun lingkungan kerja yang menyenangkan di kantornya, yang biasa disebut dengan Googleplex. Googleplex merupakan kantor idaman dari karyawan di seluruh dunia. Bagi mereka, membangun tempat kerja yang menyenangkan bagi karyawan merupakan faktor yang membuat karyawan senang untuk bekerja. Lingkungan Googleplex juga memungkinkan ide dan kreativitas untuk tumbuh. Kantor yang indah, makanan gratis, dokter gratis, dan lingkungan kerja senyaman rumah, siapa yang tidak betah?

Take Risk and Stay Focus
Pelajaran utama yang dapat kita petik dari Brin dan Page adalah tentang mengambil risiko, suatu hal yang dilakukan oleh semua entrepreneur. Semua entrepreneur yang berhasil tentu berani untuk mengambil risiko. Brin dan Page mengambil risiko untuk meninggalkan studi Ph.D-nya, dan fokus dalam peluang besar yang ada di depan mata mereka. Mereka menekuni peluang tersebut, fokus mengembangkannya, dan kini berhasil luar biasa.

gambar: mouselabour.info
RP/RP/mgf

Anda mengalami masalah dalam Hubungan Indsutrial Perusahaan Anda? Temukan solusinya di Workshop Sehari Kupas Tuntas Masalah-Masalah Hubungan Industrial, Selasa, 27 Juli 2010
Bookmark and Share
Berita Terkait :


COMMENT
LEAVE A COMMENT

       
Nama * :  
Email * : (tidak ditampilkan)
Website : (tanpa http:// )
Comment :  
Code * :  
     
     
Journal Column Experts
Journal Column Experts
Journal Column Experts
Journal Column Experts
Journal Column Experts
Journal Column Experts
Journal Column Experts
News Journal Column Experts
News Journal Column Experts
Journal Column Experts