(Vibizmanagement - Risk) - Lembaga pemeringkat utang Moody’s menaikkan peringkat utang RI pekan ini dari Ba1 ke Baa3 dengan prediksi stabil menyusul langkah serupa yang dilakukan oleh Fitch Ratings pada pertengahan Desember tahun 2011 yang lalu yang menaikkan peringkat utang RI dari BB+ menjadi BBB- dengan prediksi stabil untuk utang jangka panjang valuta asing. S&P diharapkan akan menyusul menaikkan peringkat utang Indonesia dalam waktu dekat ini dengan pengelolaan dan fundamental ekonomi yang kian solid.
Kenaikan peringkat ke investment grade (layak investasi) ini kian mengukuhkan posisi Indonesia sebagai negara tujuan investasi yang aman dan menguntungkan. Artinya, saat ini, komunitas international mengakui status Indonesia sudah termasuk pada negara layak investasi.
Membaiknya peringkat utang Indonesia membawa sentimen positif dimana minat investor untuk membeli asset-aset Indonesia, khususnya instrumen keuangan dan obligasi pemerintah, semakin besar. Kenaikan peringkat diharapkan juga mampu menekan biaya pinjaman, khususnya imbal hasil SUN yang sangat tinggi dan membebani APBN selama ini, memperkuat likuiditas dalam perekonomian dan cadangan devisa.
Selain itu, indeks saham, kepemilikan asing dalam surat berharga negara dan nilai tukar Rupiah semakin menguat karena membanjirnya dana jangka pendek dan jangka panjang ke Indonesia.
Investment Grade dan ekspansi kredit Perbankan Status layak investasi yang diberikan oleh Fitch Ratings dan Moody’s membuat bankir berpikir lebih realistis dengan tidak membuat target ekspansi kredit yang terlalu tinggi atau kurang lebih sama dibandingkan tahun lalu.
Rencana Bisnis Bank (RBB) tahun ini memasang target kredit tumbuh 23,6% berdasarkan data sementara yang dihimpun bank sentral. Target tersebut lebih rendah dari RBB tahun lalu yang mencapai 24,4%.
Status layak investasi tersebut menyebabkan jalur akses dana / alternatif pembiayaan menjadi lebih banyak dan murah yang berdampak pada menurunnya penyaluran kredit oleh perbankan.
Kenapa ? Jika biaya menerbitkan obligasi ternyata lebih murah daripada kredit, maka korporasi tentu akan memilih menerbitkan obligasi. Berarti, ada korporasi yang mengurangi pinjamannya ke bank.
Investment Grade dan produk-produk investasi di PerbankanSituasi terbuka lebih lebarnya alternatif pembiayaan, khususnya dari sektor pasar modal dengan peringkat investment grade ini, harus memacu perbankan lebih kreatif dan inovatif dalam membuat terobosan, baik dari sisi funding maupun lending. Bank misalnya harus menciptakan produk-produk sebagai sarana investasi, bukan cuma produk-produk konvensional seperti yang ada saat ini, seperti deposito, dan lain-lain.
Apa yang dilakukan oleh BRI Syariah dengan mengeluarkan produk tabungan emas untuk level menengah pada 15 Juni 2011 bisa menjadi salah satu contoh diversifikasi produk yang harus dilakukan perbankan sehubungan dengan status investment grade ini.
Sejak diluncurkannya produk tabungan emas pada pertengahan Juni tahun lalu, animo masyarakat terus meningkat.
Nasabah yang menjadi target pasar KLM (Kepemilikan Logam Mulia) adalah individu kelas menengah yang telah memiliki tabungan atau deposito, namun mereka merasa belum cukup dengan keduanya.
BRI Syariah menawarkan produk berbasis emas setelah menganalisa bahwa harga emas dalam jangka panjang akan naik serta emas berfungsi / memiliki manfaat sebagai lindung nilai dari aset nasabah seiring dengan kontinuitas kenaikan harga emas dari tahun ke tahun. Mengapa ? Karena, merosotnya kepercayaan investor terhadap dolar AS yang dipicu penurunan peringkat utang jangka panjang Amerika oleh Standard & Poor's dari AAA menjadi AA+ membuat harga emas naik dari tahun ke tahun.
Jadi, emas merupakan alternatif lindung nilai yang aman untuk menjaga portofolio aset dan sangat likuid.
Contoh nyata mengenai fungsi lindung emas terhadap aset nasabah bisa dilihat dari fakta biaya menunaikan ibadah haji dimana jika dikonversi ke emas, maka biaya naik haji pada :
Tahun 1997 setara dengan 310 gram emas
Tahun 2007 setara dengan 145 gram emas
Tahun 2010 setara dengan 95 gram emas.
Kondisi di atas sangat bertolak belakang jika menggunakan standar uang kertas dimana
dengan nilai uang kertas maka biaya menunaikan ibadah haji selalu meningkat dari tahun ke tahun.
Pada dewasa ini, kita melihat munculnya tantangan bagi kita dengan serbuan dana asing yang masuk yaitu bagaimana memanfaatkan peluang membanjirnya dana asing yang masuk dan mengkapitalisasinya ke dalam perekonomian mikro dan makro yang lebih luas, terutama dalam bentuk pembiayaan investasi langsung di infrastruktur atau sektor lain yang menciptakan lapangan kerja baru yang perlu juga ditopang dengan modal kerjanya. Dalam hal ini, bukankah situasi demikian sebenarnya merupakan peluang pembiayaan bagi bank untuk mendampingi arus dana masuk ke pasar modal? Perbankanlah yang dapat menyalurkan dana di sektor finansial menjadi dana investasi dan modal kerja bagi sektor riil.
Peringkat investment grade ternyata bisa merupakan peluang menarik bagi perbankan.
Hidup perbankan Indonesia!
(DB/IC/vbm)
Diambil dari www.vibizconsulting.com