| TAX JOURNAL |
Dirjen Pajak Instruksikan Pegawainya Tolak Gratifikasi |
Selasa, 31 Agustus 2010 14.25 WIB
|
| |
Agus Marto: Jangan Bandingkan Rasio Pajak RI dengan Negara Lain |
Selasa, 31 Agustus 2010 14.15 WIB
|
| |
Perbedaan Penghindar Pajak,Penyelundupan Pajak dan Penghematan Pajak |
Minggu, 29 Agustus 2010 16:00 WIB
|
| |
Tax Treaty Untuk Menggenjot Penerimaan Pajak |
Minggu, 29 Agustus 2010 10.17 WIB
|
| |
Atasi Stress Pegawai, Ditjen Pajak Terapkan Sistem SDM Baru |
Jumat, 27 Agustus 2010 13.35 WIB
|
| |
Ditjen Pajak Terus Tambah Pegawai Sampai 40 Ribu |
Jumat, 27 Agustus 2010 12.45 WIB
|
| |
Tjiptardjo : Masak Bayar Zakat Disubsidi Orang Lain? |
Jumat, 27 Agustus 2010 12.45 WIB
|
| |
Tak Ada Pejabat Negara Masuk 'Daftar Kaya' Ditjen Pajak |
Jumat, 27 Agustus 2010 12.10 WIB
|
| |
Kejar Target, Dirjen Pajak Ngaku Cuma Tidur 2 Jam Sehari |
Rabu, 25 Agustus 2010 08.45 WIB
|
| |
DPR 'Protes' Angka Tax Ratio 12% |
Rabu, 25 Agustus 2010 08.15 WIB
|
| |
|
| |
|
| BUMN Diminta Tak Buru-buru Gugat Ditjen Pajak |
Sabtu, 06 Februari 2010 21.00 WIB
Oleh: Iin Caratri
|
(Managementfile - Tax) - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) meminta sejumlah BUMN yang disebut masuk dalam daftar penunggak pajak untuk tidak buru-buru mengajukan gugatan. BUMN diminta untuk menyelesaikan dulu sesuai mekanisme wajib pajak.
Menurut Sekretaris Kementerian BUMN M Said Didu, jika masih ada perbedaan angka maupun persepsi, BUMN tersebut diharapkan segera melakukan komunikasi dengan Ditjen Pajak agar bisa cepat selesai.
"Jangan dulu tuntut. Kita minta diselesaikan dulu secara mekanisme wajib pajak kepada aparat pajak," katanya di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (5/2/2010).
Dengan begitu, ia meminta seluruh perusahaan plat merah untuk melakukan kordinasi dengan Ditjen pajak mengenai masalah tersebut. Jika diperlukan, Kementerian BUMN akan memfasilitasi supaya permasalahan bisa segera diselesaikan.
"Kita tidak akan pernah mengizinkan untuk menunggak pajak. Kalau masih ada yang nunggak berarti pengawasan kita di Kementerian BUMN sudah gagal," imbuhnya.
Sebelumnya, sejumlah BUMN yang masuk dalam daftar 100 penunggak pajak terbesar yang dirilis Ditjen Pajak berencana membawa kasus tersebut ke pengadilan atas tuntutan pencemaran nama naik. Pasalnya, beberapa BUMN tersebut mengaku sudah membayar kewajibannya tetapi tetap dimasukan ke dalam daftar penunggak pajak tersebut.
(ic/IC/dtc)
|
|
|
|