(managementfile - Finance) - Pemerintah memperkirakan akan terjadi penurunan penerimaan Ditjen Bea dan Cukai sebesar Rp 5,6 triliun sepanjang semester II-2010. Penurunan ini terjadi pada penerimaan cukai dan bea masuk.
Berdasarkan data dari Kementerian Keuangan pemasukan negara dari cukai diperkirakan mengalami penyusutan sebesar Rp 4,5 triliun di semester II-2010. Dari realisasi paruh pertama Rp 32,1 triliun menjadi Rp 27,6 triliun pada semester II.
Penurunan diproyeksikan juga terjadi pada penerimaan bea masuk dari Rp 11,3 triliun menjadi Rp 10,2 triliun. Hanya saja setoran bea keluar kemungkinan meningkat sebesar Rp 200 miliar, dari Rp 1,8 triliun pada semester I menjadi Rp 2 triliun di semester II.
Direktur Jenderal Bea dan Cukai Thomas Sugijata, menyatakan pada dasarnya penerimaan negara dari sisi kepabeanan dan cukai relatif stabil dan baik.
Artinya, lanjut Thomas, dengan upaya eksternal maupun internal Ditjen Bea dan Cukai (DJBC), seharusnya realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai pada tahun ini bisa lebih tinggi dari prognosa awal pemerintah tersebut.
"Jadi inikan prognosa, ya itu boleh-boleh saja. Prognosa itu (pertimbangannya) lebih kepada upaya untuk mencapai penerimaan, tapi kalau dalam praktiknya rendah. Tapi riil-nya bisa lebih dari pada itu ya," ujarnya saat ditemui di Gedung Kementerian Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Kamis (29/7/2010).
Thomas menilai meski pada semester pertama tahun ini realisasi penerimaan kepabenaan dan cukai sudah melampaui target, sebagai pengumpul penerimaan negara DJBC tidak boleh mengendurkan kinerja. Berbagai upaya internal tetap akan dilakukan untuk memaksimalkan penerimaan negara di tengah melonjaknya volume perdagangan.
"Kalau kami, penerimaan itu policy-nya harus optimal, harus melebihi target. Itu yang harus kami kejar," katanya.
Dari sisi bea masuk, lanjut Thomas, arah kebijakannya akan mengalami penurunan sejalan dengan perjanjian perdagangan bebas. Tarif rata-ratanya saat ini sekitar 18%, turun dari posisi sebelumnya yang sebesar 25%.
"Itu lebih rendah dibandingkan kenaikan impor. Impor kan naik, volumenya naik, devisa dutiable juga naik, ditambah juga dengan internal effort. Dengan demikian memang masih terjadi kenaikan bea masuk," ungkapnya.
Namun ke depannya, Thomas mengatakan kebijakan tarif bea masuk akan terus ditekan hingga 0%. Dengan demikian, pada akhirnya tidak akan ada penerimaan yang masuk ke kas negara dari bea masuk.
"Ya memang arahnya ke sana," tukasnya.
(ic/IC/dtc)
|