HUMAN RESOURCES JOURNAL |
Menerapkan Coaching untuk Retensi Karyawan. |
Jumat, 03 September 2010 17:00 WIB
|
| |
Keuangan Sehat Produktivitas Kerja Meningkat |
Kamis, 02 September 2010 16:30 WIB
|
| |
Membangun "The Winning Team", Sulitkah? |
Kamis, 02 September 2010 12:30 WIB
|
| |
Mempertahankan Kepercayaan Anggota Tim |
Kamis, 02 September 2010 11:00 WIB
|
| |
Seberapa Pentingkah Menganalisa Jabatan? |
Rabu, 01 September 2010 19:00 WIB
|
| |
Peran HRD di Tengah Kondisi Sulit |
Minggu, 29 Agustus 2010 19:10 WIB
|
| |
Mengatasi Turnover yang Tinggi |
Minggu, 29 Agustus 2010 19:10 WIB
|
| |
Tips Sukses Melewati Masa Percobaan |
Minggu, 29 Agustus 2010 17:00 WIB
|
| |
Mentoring, Bantu Karyawan Baru Beradaptasi |
Minggu, 29 Agustus 2010 16:00 WIB
|
| |
Tetap Produktif Saat Puasa, Mengapa Tidak? |
Jumat, 27 Agustus 2010 11:00 WIB
|
| |
|
| |
|
| Menerapkan Coaching untuk Retensi Karyawan. |
Jumat, 03 September 2010 17:00 WIB
Oleh: Ruth Berliana
|
(vibizmanagement – HR) - Maia, adalah salah seorang marketing manager yang handal. Selama 5 tahun ia telah menjabat sebagai manager di divisi marketing dan dia selalu menjadi “top performer”. Sepertinya apa yang dia lakukan selalu sukses. Setiap nasabah yang “diprospek” selalu “goal”. Namun seiring berjalannya waktu, dia merasa bahwa dia tidak bisa “meng-eksplore” dirinya lebih lagi. Apa yang dia jalani sudah seperti rutinitas dan dia tidak lagi merasa tertantang. Sampai kemudian di memutuskan untuk pindah ke sebuah perusahaan lain yang lebih menantang. Ketika ia mengirimkan surat pengunduran dirinya kepada direktur marketing, maka ia pun segera dipanggil oleh sang direktur dan ia pun ditawarkan posisi yang baru yang lebih menantang. Namun sayangnya si manager marketing sudah terlanjur menandatangani kontrak dengan perusahaan lain tersebut.
Apa yang terjadi pada si marketing manager sering kali terjadi di banyak perusahaan. Sehingga perusahaan pun kehilangan tenaga-tenaga terbaiknya. Apa yang tidak dilakukan oleh si perusahaan adalah tidak adanya usaha dari pihak HRD untuk mendeteksi dini apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan dari para karyawan terutama para tenaga terbaik tersebut. Jikalau pihak HRD tidak menjadi jeli maka para tenaga terbaiknya akan “dibajak” oleh perusahaan lain ataupun pihak “competitor”.
Oleh karena itu coaching dapat menjadi salah satu tindakan yang dapat diterapkan oleh pihak HRD guna mempertahankan para karyawannya.
Coaching sebagai salah satu langkah terbaik
1. Coaching identik dengan suatu percakapan dua arah yang penuh dengan makna dan terarah. Coaching tidak terjadi secara kebetulan melainkan diadakan secara terencana atau sesuai dengan kebutuhan.Perlu digarisbawahi bahwa ini adalah percakapan dua arah. Jadi bukan semata-mata si atasan yang berbicara dan memberikan petuah-petuah, atau si bawahan yang mencurahkan keluhan-keluhannya, tetapi kedua belah pihak untuk suatu tujuan yang disadari bersama.
2. Mengadakan coaching diharapkan dengan menerapkan keahlian spesifik dan pola pikir yang tepat. Bukan hanya sekedar mengandalkan kepandaian berbicara, namun harus diperhatikan kepiawaian untuk menggali, menguraikan hingga dapat menyimpulkan hasil yang tepat guna mencapai tujuan.
3. Coaching merupakan suatu metode yang dapat diterapkan guna memfasilitasi seseorang untuk membangun dan mengembangkan kemampuan serta kepercayaan dirinya. Sang atasan dapat memakai kesempatan ini untuk menggali potensi yang sebenarnya dimiliki sang bawahan. Serta meyakinkan sang bawahan bahwa ia memiliki kemampuan untuk dapat berkembang.
4. Dengan coaching maka diharapkan, kinerja dari sang bawahan akan meningkat. Selain itu kerjasama tim juga akan semakin baik. Sedangkan bagi sang atasan, maka ia akan lebih mengenal anggota timnya serta ia dapat mengambil keputusan yang tepat untuk mencapai tujuan yang ada.
Apa yang terdapat dalam coaching
1. Penilaian. Sang atasan memberikan penilaian atas kinerja sang bawahan. Berilah pujian jika memang sang bawahan memiliki kinerja yang baik. Hal ini akan membuat sang bawahan merasa sangat dihargai. Tetapi bila kinerja sang bawahan masih kurang, maka sang atasan dapat memaparkan dengan apa adanya namun secara bijaksana. Gunakanlah fakta-fakta yang ada bukan hanya berdasarkan perasaan atau pendapat secara general.Selain itu juga kemukakan apa dan bagaimana yang seharusnya dicapai. Hindari kesan menggurui ataupun menghakimi. Hal ini akan sangat mempengaruhi hubungan di kemudian kelak.
2. Identifikasi. Dalam coaching hendaknya sang atasan dapat dengan jeli mengidentifikasi kebutuhan yang ada ataupun permasalahan yang ada guna mencapai prestasi kerja yang maksimal. Jangan lupa, tenaga kerja terbaik pun pasti memiliki kebutuhan.
3. Penetapan tujuan. Melalui coaching ini, diharapkan ada kesepakatan antara kedua belah pihak mengenai tujuan yang harus dicapai. Baik untuk jangan pendek maupun untuk jangka panjang.
4. Menyusun perencanaan. Diharapkan melalui coaching maka kedua belah pihak memutuskan langkah apa yang akan diambil guna mengembangkan diri dalam mencapai tujuan ataupun dalam memecahkan masalah yang ada. Idealnya coaching memberikan solusi yang tepat bagi tim yang ada. Hindari coaching tanpa menemukan adanya solusi.
5. Landasi coaching dengan saling percaya, terbuka dan menjaga rahasia. Sang atasan sebaiknya dapat menjadi orang yang dipercaya oleh bawahannya sehingga sang bawahan dapat membuka dirinya dengan apa adanya. Hindari membicarakan apa yang ada pada coaching kepada mereka yang tidak berkepentingan.
6. Terapkan kemampuan ‘mendengar secara aktif’ dengan menghargai perbedaan dan keunikan individu serta keragaman budaya.
Bilamana atasan dari Maia pada kasus di atas menerapkan coaching secara berkala, maka ia akan dapat mengidentifikasi secara tepat kondisi Maia dan apa yang dibutuhkannya. Sehingga langkah yang tepat dapat diambil untuk kepentingan perusahaan. Tindakan seperti ini dapat kita anggap sebagai salah satu tindakan untuk meretensi para pekerja secara berkala. Bukan merupakan tindakan retensi sesaat yang sering kali dilakukan ketika pihak HRD menerima surat pengunduran diri dari tenaga kerja terbaiknya.
RB/RP/vbm
|
|
|
|